Perkembangan Blog

Januari 11, 2009 oleh dnasida

Dunia Blog Indonesia Tahun 2009

Setelah membaca tulisan di NavinoT kok ya jadi ingin mencoba memprediksi perkembangan blog di tahun 2009. Berikut ini poin-poin prediksinya:

Semakin banyak jumlah blog.

Semua tahu kalau jumlah blog dan blogger Indonesia terus bertambah banyak. Namun bukan berarti pertumbuhan itu akan diikuti oleh pertumbuhan konten positif. Perhatikan deh, semakin hari semakin banyak saja buku terbit yang bertemakan “menjadi kaya dengan blog.” Buku-buku itu mengesampingkan hakikat blog sebenarnya, yakni sebagai media penyaji informasi dan komunikasi antara penulis dan pembacanya.

Mengkhawatirkan sekali bila ternyata banyak orang membuat blog karena didorong oleh motivasi mencari uang. Di bulan Januari mendatang saja, ada satu kampus di Jakarta yang mengundang penulis blog Media Ide ini untuk menjadi pembicara. Mereka pun berpikiran serupa, karena mereka meminta penulis untuk bercerita tentang mendapatkan uang melalui blog. Namun akhirnya setelah berdiskusi, tema pun akhirnya diganti. Fokusnya kini adalah membuat konten yang bermanfaat menggunakan blog.

Blog menjadi media komunitas.

Di akhir 2008 kemarin muncul Facebook Connect, dimana Facebook kini memungkinkan setiap situs memanfaatkan database anggota Facebook. Setiap situs dimungkinkan untuk membuat komunitasnya sendiri dengan mengkoneksikannya dengan API Facebook. Blog berbasis WordPress kini sudah menyediakan plugin-nya, dan contohnya bisa dilihat di sidebar kanan blog ini.

Dengan plugin ini, pengunjung bisa berkomentar menggunakan login Facebook, dan setiap komentarnya di blog ini bisa muncul pula di profil dirinya di Facebook. Ini baru awal. Di tahun 2009, pengembangan yang muncul pasti bisa beraneka ragam. Bisa jadi, beragam game dan aplikasi Facebook lainnya nanti bisa ikut pula terintegrasi dalam blog. Bisa jadi pula, kita nanti bisa memanfaatkan fitur-fitur wall, discussion board, video player, yang terintegrasi dengan blog yang kita miliki. Lama-kelamaan, blog yang tadinya adalah ranah pribadi, semakin berkembang menjadi ranah komunitas para pembacanya.

Selain itu juga ada Google Friend Connect, yang punya konsep serupa. Contohnya juga bisa dilihat di sidebar kanan blog ini. Sekarang aplikasi yang dikembangkan untuk Google Friend Conncet ini memang masih sedikit, seperti shoutbox (dulu pernah dipasang pula di blog ini). Yang bisa mengirimkan komentar di shoutbox hanyalah mereka yang sudah tergabung dalam Google Friend Connect. Di tahun 2009, aplikasi yang muncul pasti akan semakin banyak. Bisa jadi akan pula terintegrasi dengan Google Gadget, sehingga kita bisa melihat horoskop/bermain game/membaca berita yang difavoritkan oleh anggota lainnya.

Batasan blog dan media mainstream semakin kabur.

Di Indonesia tren membangun portal berita kembali menanjak. Setiap media elektronik ingin punya versi portalnya sendiri. Bahkan isunya Vivanews saja mengeluarkan dana hingga 15 milyar hanya untuk portal tersebut, dan berharap bisa break even point dalam 3 tahun. Berhasil atau nggak, tergantung pelaksana Vivanews yang punya rencana. Jelas kalau hanya mengandalkan penjualan spot iklan akan susah mengejarnya. Belum lagi, ada yang memprediksi belanja iklan para pemasar produk di tahun 2009 menurun, yang tentunya akan berimbas pada persaingan sengit dengan portal-portal berita yang lebih dulu ada.

Buat mereka yang tidak punya bujet sebesar itu, namun ingin terjun di dunia online, bisa jadi akan melirik alternatif lain dengan bujet yang lebih masuk akal. Di luar, banyak media memanfaatkan format blog sebagai model penyampaian berita. Skala blog yang awalnya hanya ditulis individual dan hanya membahas satu tipe topik akan membesar. Blog diisi oleh banyak penulis dengan topik yang lebih melebar pula, layaknya sebuah majalah yang biasa kita baca. Pola-pola penyampaian berita seperti yang dilakukan oleh Gawker, Inquisitr, Huffington Post, atau Techcrunch menjadi alternatif dibandingkan memikirkan pengelolaan portal berita yang mahal.

Semakin banyak politisi ngeblog.

Semua sudah tahu cerita Obama yang memanfaatkan media sosial untuk membantu kampanye politiknya. Politisi pun mungkin banyak yang sudah tahu. Mereka juga tahu kalau 10% penduduk Indonesia ini doyan internet. Melakukan pendekatan kepada para pengguna internet Indonesia sudah menjadi kewajiban kalau mereka ingin bisa sukses di Pemilu mendatang. Bahasan tentang ini bisa dibaca di ulasannya Heriyadi di sini.

Blog menjadi media yang paling mudah dipakai untuk mereka bercerita tentang program mereka. Namun akan sangat disayangkan bila tujuan mereka ngeblog adalah untuk mencari dukungan suara belaka saja. Hal ini tidak berbeda dengan mereka yang ngeblog hanya untuk mencari uang belaka. Harapannya sih, mereka ngeblog dengan tujuan yang lebih mulia, yakni memberikan pendidikan politik bagi warga internet. Jadi, tidak peduli apakah mereka nanti dipilih atau tidak, kegiatan ngeblog harus terus mereka jalankan.

Semakin banyak ulasan produk dilakukan oleh para blogger.

Tahun 2008 saja sudah ada beberapa produk yang melakukan advertorial di beberapa blog. Mereka memilih blog tertentu yang target pembacanya sesuai dengan target produk mereka. Memang tahun 2008 masih banyak yang sifatnya sebagai coba-coba. Advertorial bisa berupa pesanan tulisan dari pemilik produk. Untuk rangkaian kata-katanya blogger dibebaskan untuk menulisnya. Blogger bebas pula memberikan opini dan kritikan seputar produk tersebut. Atau, bisa juga blogger diundang untuk menghadiri suatu acara khusus, lalu penyelenggara acara berharap blogger mau menuliskan pengalamannya di blognya. Memang belum ada yang membuktikan efektifitas keberhasilan cara ini. Namun karena biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar, pasti akan semakin banyak pemilik produk yang ikut mencoba.

Cukuplah lima prediksi saja yang diungkapkan, biar tulisannya nggak terlalu panjang. Kalau Anda punya prediksi lain, silakan juga loh berbagi di sini.

(http://media-ide.bajingloncat.com/2008/12/29/dunia-blog-indonesia-tahun-2009/)

ponsel sebagai budaya teknologi dan teknologi budaya

Januari 9, 2009 oleh dnasida

Jakarta, (Weekly Review) Adalah sebuah teknologi bernama telepon selular (ponsel), yang kemudian melahirkan sebuah budaya baru bagi masyarakat di dunia yang sudah sangat renta ini, yaitu “budaya mobilitas” (culture of mobility). Budaya bergerak inilah yang kemudian menginspirasikan sekian banyak para pemuja piranti teknologi informasi (TI) untuk dapat berkomunikasi kapan dan di mana saja. Bahkan salah satu produsen ponsel terkemuka, menjadikan budaya mobilitas tersebut sebagai salah satu pameo budaya kerja mereka.

Para penganut budaya mobilitas percaya bahwa ruang dan waktu tidak lagi menjadi sesuatu batasan dalam bekerja, berkomunikasi dan beraktifitas. Dengan mengadopsi budaya mobilitas, kantor Anda adalah diri Anda sendiri. Kantor Anda ter-embedded pada diri Anda, kemanapun Anda pergi.

Anda bahkan bisa “melipat dunia”, hanya bermodalkan sebuah ponsel. Teleworking, telecommuting, teleconference dan bertele-tele lainnya, kini sudah bisa dilayani oleh ponsel. Tentunya ponselnya juga harus yang canggih punya, bukan yang sekelas “jutaan umat” pada beberapa tahun silam yang laris-manis walaupun keunggulannya hanya pada game uler-uleran-nya.

Kini ponsel dengan kelengkapan kamera untuk still image hingga video, dengan resolusi yang semakin membaik, adalah pilihan bagi mereka yang berduit cukupan. Bluetooth dan MMS pun adalah suatu keharusan ketika mereka memutuskan untuk membeli ponsel. Digunakan atau tidak itu urusan nanti, mungkin ngerti fungsi dan memfungsikannya pun tidak. Pokoknya, nge-trend gitu lho!

Celakanya, suatu budaya tak lebih dari sekedar hasil kreasi akal-budi manusia yang kerap tak dilengkapi dengan “buku manual”, termasuk budaya mobilitas tersebut. Sehingga mereka yang hidup di dan dengan budaya tersebut kemudian mudah menjadi gamang ketika menyadari bahwa bersama budaya mobilitas ternyata ikut pula terbawa beberapa dampak yang dapat memukul balik para pengikutnya. Mereka tak siap menghadapinya.

Budaya mobilitas (baca: ponsel) ternyata juga “menabrak” pakem privasi, yaitu dengan nyasarnya konten pornografi hingga ke tempat privat dan nyasarnya konten privat hingga ke tempat publik.

Konten Porno ke Tempat Privat

Untuk dampak yang pertama, yaitu nyasarnya konten pornografi hingga ke tempat privat, ini sempat menjadi headline di tabloid Nakita (nomor 316, tahun VII, 23 April 2005) beberapa waktu lalu. Diberitakan dalam tabloid tersebut, bahwa anak-anak usia dini yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), sangat rentan terpapar konten pornografi melalui ponsel yang dibawanya. “Pornografi di Ponsel Anak, Banyak Anak SD Jadi Sasaran!”, demikian tabloid tersebut menuliskan besar-besar judul beritanya pada halaman depan.

Memang dengan membekali ponsel ke anak, orang tua akan bisa selalu berkomunikasi kapan saja dengan anaknya. Masalahnya, baik orang tua maupun si anak ternyata tidak terlalu paham tentang fitur-fitur ponsel. Walhasil, si anak dibekali ponsel yang tercanggih, lengkap dengan fasilitas MMS-nya, yang kemudian menjadi salah satu target konten porno yang nyasar.
Ponsel sebagai sarana komunikasi yang paling privat antara orangtua dan anak, pun ternyata dapat dikotori dengan konten-konten porno dari antah-berantah.

Padahal urusannya simpel saja. Jangan berikan ponsel yang canggih untuk digunakan oleh anak. Berikan saja ponsel dengan fitur paling minim, cukup telepon dan SMS saja. Paling banter harga barunya hanya setengah jutaan saja. Daripada memanjakan anak dengan teknologi tercanggih, yang akhirnya malah jadi berabe.

Konten Privat ke Tempat Publik

Kemudian, dampak kedua ini juga tidak kalah seru. Kini di Internet semakin banyak berseliweran gambar-gambar (still image) ataupun cuplikan video (video clip) dengan konten lokal yang cukup “panas”! Konten-konten tersebut kuat diduga diambil dengan menggunakan fasilitas kamera pada yang sudah built-in pada banyak ponsel keluaran terkini.

Misalnya ada sebuah video clip yang menggambarkan suasana di dalam ruang kelas dengan beberapa siswi menggunakan baju seragam berlambang OSIS, kemudian saling mempertunjukkan beberapa bagian tubuh mereka yang sebelumnya tertutup oleh baju seragam. Beberapa mailing-list (milis) yang turut mendistribusikan konten-konten tersebut kerap mempercayai bahwa para obyek dalam konten tersebut adalah siswi SMU negeri yang cukup terkenal di Jakarta.

Selain itu, kini tengah heboh penyebaran konten video clip seseorang perempuan yang diklaim sangat mirip Mawar, juara 2 AFI. Bahkan banyak pula yang yakin bahwa obyek dalam video clip tersebut memang benar Mawar itu sendiri. Dalam konten tersebut si perempuan tengah dilulur dan tampak setengah badan ke atas tanpa busana. Sembari dilulur, ada seorang rekannya yang merekam menggunakan sebuah ponsel dan tampak akrab bercakap-cakap dengan perempuan tersebut. Tablod Star Nova (nomor 142, tahun III, Mei 2005) bahkan memajang besar-besar judul “Adegan Panas Mawar AFI Beredar!” pada halaman depannya.

Yang menarik dari kedua contoh di atas adalah, bahwa baik antara si perekam gambar maupun pihak yang direkam gambarnya, ternyata sama-sama saling kenal, berinteraksi secara langsung saat penggambilan gambar dan tampak tidak adanya unsur paksaan. Dan bukan tidak mungkin, para pihak yang terlibat tersebut memang tidak pernah punya itikad untuk menyebarluaskan “hasil karya” mereka. Toh memang tidak salah ketika berkreasi sesuatu untuk koleksi pribadi atau terbatas.

Lalu mengapa koleksi pribadi tersebut bisa meluncur bebas di Internet? Salah satu hasil analisis yang masuk akal adalah karena koleksi tersebut “dicuri”. Karena dengan berbagai trik yang tidak terlalu sulit, kini konten apapun yang ada di ponsel berfitur canggih, akan dapat disadap. Lupa mematikan fitur bluetooth di tempat umum misalnya, ditambah dengan sedikit kecerobohan dalam menjawab pesan yang muncul di layar ponsel, akan mengakibatkan seluruh isi ponsel dapat dikopi oleh seseorang yang antah-berantah.

Mobilitas vs Permisifitas

Kalau sudah begini keadaannya, maka tak ada hal lain yang bisa kita lakukan, selain lebih cerdas dalam memilih dan menggunakan teknologi. Sekedar mengikuti tren tanpa pengetahuan yang cukup, sama saja bunuh diri. Memang kita lebih senang mengutuk para pelaku penyebaran konten privat ke tempat publik atau konten porno ke tempat privat. Dan konyolnya, bukan bualan jika akhirnya teknologi yang disalahkan.

Padahal teknologi adalah sekedar alat pemutar suatu budaya, budaya mobilitas. Dan memang akhirnya yang namanya mobilitas bukan lagi sekedar pada pelakunya, tetapi juga pada kontennya. Ketika Anda memilih hidup pada budaya mobilitas ini, maka batasan antara privasi ataupun ruang privat menjadi kabur. Privasi adalah hal yang kian hari kian diperjuangkan oleh banyak orang, tetapi di saat yang bersamaan keberadaan teknologi seolah berada pada garis yang berseberangan.

Untuk itu, tak ada salahnya jika kita pahami bahwa dalam budaya mobilitas, yang bergerak (mobile) selain pelaku dan kontennya, juga tingkat permisifitas kita. Kita semakin “dipaksa” untuk memaklumi bahwa privasi haruslah digadaikan dalam budaya mobilitas. Dan ini berarti termasuk privasi anak-anak dan para remaja kita! Mudah-mudahan deskripsi pada paragraf terakhir ini tidak pernah terjadi.

Sumber: http://qofarjoernalizt.blogspot.com/

PERKEMBANGAN TELEPON SELULER

Desember 17, 2008 oleh dnasida

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI TELEPON SELULER (handphone)

Handphone merupakan salah satu dari perkembangan teknologi. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, fungsi handphone tidak hanya sebagai alat komunikasi biasa, tetapi manusia juga dapat mengakses internet, SMS, berfoto dan juga saling mengirim data. Dampak yang ditimbulkan dari handpone mungkin tidak kita sadari sama sekali. Selain memudahkan dalam berkomunikasi sebagai dampak positif yang manusia dapatkan, terdapat pula dampak negatif yang manusia dapatkan sebagai akibat menggunakan handphone atau telepon genggam ini.

Handphone pada saat ini tidak hanya digunakan oleh kalangan dewasa saja. Sekarang anak-anak pun sudah banyak yang memiliki handphone dengan kecanggihan yang tidak kalah dengan handphone orang dewasa. Sehingga dampaknya terjadi tidak hanya pada orang dewasa tetapi juga pada anak-anak.

Misalnya pada anak-anak selain fungsi handphone sebagai alat komunikasi, anak-anak dinilai “ikut-ikutan” terhadap tren saja. Banyak hal yang dapat diperhatikan dari fenomena ini. Misalnya adalah jika dilihat dari segi sosial, kesenjangan akan sangat terlihat antara anak yang berasal dari keluarga mampu secara finansial dan yang tidak dalam suatu komunitas di sekolahnya. Penggunaan telepon selular secara tidak langsung juga dinilai dapat mempengaruhi lingkungan pergaulan anak-anak.

kepemilikan telepon selular oleh anak berkaitan dengan perkembangan psikologisnya khususnya dalam mengembangkan kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi serta keinginan untuk diterima di pergaulannya (popularitas). Kreativitas, ego serta kondisi lingkungan (apakah teman-temannya mempunyai telepon selular) secara psikologis dapat memicu seorang anak untuk memiliki telepon selular.

Selain itu dampak negatif dari perkembangan teknologi hadphone terjadi juga pada orang dewasa diantaranya :

  1. Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face).

  2. Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi. Manusia menjadi malas untuk bersosialisasi dengan teman dan lingkungan sekitar. Dengan fasilitas yang dimiliki oleh HP, maka di zaman yang serba canggih dan modern ini segalanya bisa dilakukan dengan duduk di tempat tanpa perlu beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan aktivitas seseorang. Mulai dari mengisi pulsa, transfer uang, memesan tiket, belanja, hingga memesan makanan dapat dilakukan tanpa beranjak dari tempat sedikitpun. Memang akan menjadi lebih mudah tetapi orang akan lebih tidak peduli dengan rasa sosial.

Sebagai contohnya dapat kita lihat dalam film wall-e. film dengan setting masa depan yang serba canggih yang segala macam bentuk aktifitasnya dilakukan secara digital. Mulai dari makan, berbelanja, hingga mandi dilakukan dengan system komputer sehingga manusia tidak perlu bergerak atau berjalan dan hanya tinggal duduk di kursi saja semua sudah dijalankan.  Oleh karena itu manusia menjadi malas dan karena hanya terpaku pada penggunaan teknologi saja bahkan merekapun jadi lupa untuk bersosialisasi dengan org sekitar saking terbuai dengan kenikmatan teknologi.

Perkembangan  telepon seluler sekarang ini juga menjadi menarik untuk disimak karena konvergensi teknologi yang sekarang terjadi mengisyaratkan kita bahwa kemajuan teknologi komunikasi informasi sekarang ini tidak memiliki batas sama sekali. Sulit bagi kita sekarang ini membedakan mana masuk kategori ponsel, kategori komputer, kategori pemutar musik digital, maupun kategori kamera digital atau video digital.Tampaknya sudah tidak ada lagi batasan yang jelas antara berbagai teknologi yang tersedia sekarang ini di pasaran yang semuanya menjadi sebuah kesatuan dan berbagai fungsi terkumpul dalam sebuah perangkatJika di bandingkan dengan jaman dulu perkembangan teknologi handphone tidak berkembang pesat seperti sekarang ini.·        dapat di lihat dari model handphone jaman dulu desai nya sangat sederhana dan lebih cenderung simple,tidak seperti jaman sekarang,model handphone banyak yang berbentuk unik dan besar.·        Jaman dulu layar handphone hanya bisa 1 warna atau sedikit.·        Ringtone nya masih pollyphonic.·        Belum bisa mengunakan lagu sebagai nada sambung.Dan perkembangan yang semakin maju Pada industri ponsel,  dapat di lihat fenomena terlihat dengan semakin banyaknya perangkat ponsel yang penuh dengan berbagai ragam kemampuan multimedia, dan bahkan pada model-model tertentu sudah bisa menjadi fungsi komputer dengan kecepatan komputasi yang setara ketika komputer pertama kali digunakan secara massal oleh konsumen. di antara perkembangan kedua teknologi ini adalah persoalan desain. Rancangan desain ponsel sekarang ini beribu macam, dari yang sederhana sebagai sebuah ponsel belaka sampai tercanggih.Contohnya saja untuk handphone jaman sekarang,banyak ang sudah dilengkapi oleh kecanggihan teknoogi seperti MMS,3G,GPRS,ringtone ujuga semakin canggih(bisa mengunakan MP3 sebagai ringtone),warna untuk layar semakin banyak,dan untuk sekarang ini nada sambung handphone bia mengunakan sesuai dengan yang kita inginkan.
MMS :seperti pesan text biasa,tetapi untuk MMS dapat melakukan pengiriman pesan beserta gambar.
3G    : telepon dengan lawan bicara,tetapi bisa di lakukan secara tatap muka.(dan sekarang untuk handphone yang lebih canggih dilengkapi 3,5G dan 4G).
GPRS: untuk internet,membuka email.
Dengan semakin maju perkembangan teknologi handphone semakin membantu oran-orang dalam melakukan segala aktifitas,karena handphone dapat dikatakan sebagai indenditas seseorang.

Sekarang ini perkembangan teknologi ponsel sangatlah menjajikan apabila dilihat dari dunia bisnis. Mereka memanfaatkan ide-ide kreatif mereka dengan hanya mengeluarkan modal yang tidak banyak tapi bisa menghasilkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya.Seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak sekali game-game yang bisa di download ke hp kita dengan mudahnya. Hanya dengan tinggal mengirimkan sms seharga kurang-lebih 2000 rupiah kita bisa mendapatkan game yg kita mau. Ataupun lagu-lagu yang baru-baru untuk dijadikan ringtone.

Ataupun sekarang ini kita juga bisa mendownload foto-foto artis, mendapatkan sms dari artis favorit kita dengan hanya mengirimkan sms saja. Tidak hanya untuk hiburan saja kita juga bisa mendapatkan informasi atau berita dengan cara berlangganan maka tiap hari provider akan mengirimkan berita terbaru yang kita inginkan. jadi dengan adannya bisnis ini, seperti terjadi adanya simbiosis mutualisme antara pengguna seluler dengan provider pasalnya dengan mengeluarkan uang kurang lebih 2000 kita juga akan mendapatkan informasi-informasi yang kita inginkan, seperti selebritis, berita, pendidikan sampai ramalan sehinga masing-masing pihak mendapatkan keuntungannya masing-masing. Tetapi tidak semua provider berlaku jujur karena terkadang walaupun kita telah memutuskan untuk tidak melanjutkan berlanganan lagi, tetapi mereka tetap memotong pulsa kita. Jadi kita sebagai consumen harus pintar-pintar memilih.

(http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=121)

PERKEMBANGAN TELEVISI

Desember 17, 2008 oleh dnasida

Perkembangan Televisi

TV MEKANIK
Mungkin susah untuk dipercaya. Namun, penemuan cakram metal kecil berputar dengan banyak lubang didalamnya yang ditemukan oleh seorang mahasiswa di Berlin-Jerman, 23 tahun, Paul Nipkow [1883], merupakan cikal bakal lahirnya televisi.

Kemudian disekitar tahun 1920, para pakar lainnya seperti John Logie Baird dan Charles Francis Jenkins, menggunakan piringan Nipkow ini untuk menciptakan suatu sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, dan penerimaannya. Mereka membuat seluruh sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan mekanik, baik dalam penyiaran maupun penerimaannya. Saat itu belum ditemukan Cathode Ray Tube [CRT].

Vladimir Zworykin, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar pada masa itu, mendapat bantuan dari David Sarnoff, Senior Vice President dari RCA [Radio Corporation of America]. Sarnoff sudah banyak mencurahkan perhatian pada perkembangan TV mekanik, dan meramalkan TV elektronik akan mempunyai masa depan komersial yang lebih baik. Insinyur lain, Philo Farnsworth, juga berhasil mendapatkan sponsor untuk mendukung idenya, dan ikut berkompetisi dengan Vladimir.

TV ELEKTRONIK
Baik Farnsworth, maupun Zworykin, bekerja terpisah, dan keduanya berhasil dalam membuat kemajuan bagi TV secara komersial dengan biaya yang sangat terjangkau. Di tahun 1935, keduanya mulai memancarkan siaran dengan menggunakan sistem yang sepenuhnya elektronik.

1939, RCA dan Zworykin siap untuk program reguler televisinya, dan mereka mendemonstrasikan secara besar-besaran pada World Fair di New York. Antusias masyarakat yang begitu besar terhadap sistem elektronik ini, menyebabkan the National Television Standards Committee [NTSC], 1941, memutuskan sudah saatnya untuk menstandarisasikan sistem transmisi siaran televisi di Amerika. Lima bulan kemudian, seluruh stasiun televisi Amerika yang berjumlah 22 buah itu, sudah mengkonversikan sistemnya kedalam standard elektronik baru.

TV BERWARNA
Sebenarnya CBS sudah lebih dahulu membangun sistem warnanya beberapa tahun sebelum rivalnya, RCA. Tetapi sayang sekali bahwa sistem mereka tidak kompatibel dengan kebanyakan TV hitam putih diseluruh negara. CBS, yang sudah mengeluarkan banyak sekali biaya untuk sistem warna mereka, harus menyadari kenyataan bahwa pekerjaan mereka berakhir sia-sia. RCA, yang belajar dari pengalaman CBS, mulai membangun sistem warna mereka sendiri. Mereka dengan cepat membangun sistem warna yang mampu juga untuk diterima sistem hitam putih [BW]. Setelah RCA memamerkan kemampuan sistem mereka, NTSC membakukannya untuk siaran komersial thn 1953.

TV SAAT INI
Plasma Display TV
– Tampilan plasma diciptakan di Universitas Illinois oleh Donald L. Bitzer dan H. Gene Slottow pada 1964 untuk Sistem Komputer PLATO. Panel monochrome orisinal (biasanya oranye atau hijau) menikmati penggunaan yang bertambah pada awal 1970-an karena tampilan ini kuat dan tidak membutuhkan sirkuit memori dan penyegaran. Namun diikuti oleh kurangnya penjualan yang dikarenakan perkembangan semikonduktor memori membuat tampilan CRT sangat murah pada akhir 1970-an. Dimulai dari dissertasi PhD Larry Weber dari Universitas Illinois pada 1975 yang berhasil membuat tampilan plasma berwarna, dan akhirnya berhasil mencapai tujuan tersebut pada 1995. Sekarang ini sangat terangnya dan sudut pandang lebar dari panel berwarna plamsa telah menyebabkan tampilan ini kembali mendapatkan kepopulerannya.

TV MASA DEPAN
Lasers may become an ideal replacement for the UHP lamps[2], which are currently in use in projection display devices such as rear projection TV and front projectors. Current televisions are capable of displaying only half of the visible spectrum of colors[3]. In contrast, proponents of Laser TV technology claim that the standard will be able to reproduce more than 90% of the colors visible to the human eye.

A laser TV requires lasers in three distinct wavelengths: Red, Green and Blue. While red laser diodes are commercially available, there are no commercially available green and blue laser diodes which can provide the required power at room temperature with an adequate life time. Instead frequency doubling can be used to provide the blue and green wavelengths. Several types of lasers can be used as the frequency doubled sources: fiber lasers, inter cavity doubled lasers, external cavity doubled lasers, eVCSEL’s and OPSL’s (Optically Pumped Semiconductor Lasers). Among the inter cavity doubled lasers VCSEL’s have shown much promise and potential to be the basis for a mass produced frequency doubled laser.

(http://teknologikomunikasi.blog.co.uk/2007/08/09/perkembangan_televisi~2778561)

PERKEMBANGAN TELEVISI

Desember 17, 2008 oleh dnasida

Televisi

TV LCD merk Philips

Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.

TV Braun HF1 Jerman tahun 1959

Perkembangan

Dalam penemuan televisi (tv), terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

  • 1888Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.
  • 1897 – Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Inilah yang menjadi dassar televisi layar tabung.
  • 1958 – Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan dikemukakan Dr. Glenn Brown.
  • 1987 – Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.
  • 1995 – Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.
  • dekade 2000- Masing masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya.

Memang benar banyak sebagian orang mengatakan kalau gambar yang dihasilkan TV LCD dan Plasma memiliki resolusi yang lebih tinggi. Tetapi kekurangannya adalah masa atau umur TV tersebut tidak dapat berumur panjang jika kita memakainya terus-menerus jika kalau dibandingkan dengan TV CRT atau yang di kenal sebagai Tivi biasa yang kebanyakkan orang pakai pada umumnya.

Jenis televisi

Perkembangan baru

(http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi)

Konvergensi

Desember 11, 2008 oleh dnasida

Konvergensi

Oleh: Satrio Arismunandar

Convergence: Konvergensi; pengertian harfiahnya adalah dua benda atau lebih bertemu/bersatu di suatu titik; pemusatan pandangan mata ke suatu tempat yang amat dekat.

Secara umum, konvergensi adalah penyatuan berbagai layanan dan teknologi komunikasi serta informasi (ICTS – Information and Communication Technology and Services).

Dalam arti paling umum, konvergensi berarti runtuhnya penghalang lama yang sebelumnya memisahkan ICTS menurut sejumlah dimensi: antara industri dan industri, antara aplikasi dan aplikasi, antara produser dan konsumen, antara negara dan negara.
Masing-masing mempengaruhi kepemilikan minoritas, penggunaan dan akses teknologi informasi (IT) dengan berbagai cara.

Industri-Industri: Konvergensi teknologi-teknologi baru melenyapkan perbedaan fundamental antara berbagai industri: Antara industri telepon dan industri komputer, antara pencipta content (isi pesan) dan pentransmisinya, dll. Industri-industri yang dulunya berbeda dan terpisah, kini berkonvergensi menjadi industri yang lebih tercampur dan terpadu, baik lewat merger, akuisisi, dan persaingan pasar.

Aplikasi-Aplikasi: Konvergensi ini paling dirasakan oleh konsumen, ketika mereka secara pribadi merasakan runtuhnya pemisah antara berbagai teknologi dan aplikasi komunikasi dan informasi. Teknologi telepon, misalnya, kini sudah bercampur dengan mesin penjawab, fax, photocopy, printer, scanner, Internet. Handphone juga bisa digunakan untuk menerima e-mail dan melakukan transaksi perbankan. Kini banyak piranti informasi bisa melakukan apa saja.

Produser-Konsumen: Yang terutama penting bagi kalangan minoritas adalah perkembangan Internet telah membongkar tembok pemisah antara produser (pembuat pesan) dan konsumen. Kini siapa saja bisa membuat dan mengirim pesan lewat Internet ke audience yang jauh lebih besar. Dan pesan yang dibuat itu tidak melalui saringan dari pihak pemerintah ataupun swasta komersial.

Negara-Negara: Konvergensi ini menembus batas teritorial negara dan batas “budaya nasional”. Infrastruktur Informasi Nasional pada dasarnya telah berkembang menjadi infrastruktur informasi global. Kelompok-kelompok etnis tetap bisa berhubungan dengan “tempat tinggalnya”, yang menghubungkan masyarakat Minang yang tinggal dan hidup di Amerika dengan masyarakat Minang di kampung asalnya di Sumatra Barat.

Persoalan yang muncul:
Apakah konvergensi menjurus ke kompetisi (persaingan antarmedia dan media yang lebih beranekaragam) atau konsentrasi (penumpukan kepemilikan media dan monopoli)?
Ada dua pandangan:
Konvergensi mendorong terjadinya kompetisi yang lebih besar
Konvergensi mendorong terjadinya konsentrasi yang lebih besar

Konvergensi mendorong terjadinya kompetisi yang lebih besar

Digitalisasi membuka seluruh pasar bagi kompetisi, dengan merendahkan prasyarat masuk (entry barrier). Bahan mentah (raw masterial) bagi semua industri media ini kini adalah nol-dan-satu yang didigitalkan.
Jika media-media ini diibaratkan ikan, memang ada ikan-ikan yang jadi lebih gemuk karena memakan ikan-ikan lain. Tetapi ukuran kolam ikannya sendiri juga semakin besar. Ini berarti tingkat konsentrasi media tidak menjadi lebih besar, dan mungkin justru makin berkurang.

Konvergensi mendorong terjadinya konsentrasi yang lebih besar

Terjadinya banyak merger antar media, mendorong konsentrasi kepemilikan. Contoh, 75 persen dari seluruh suratkabar Amerika dimiliki oleh jaringan suratkabar nasional, dan empat dari jaringan tersebut mengontrol 21 persen pasar.
Kepemilikan silang perusahaan media dengan perusahaan non-media (perusahaan minyak, energi nuklir, dsb), membuat perusahaan media kurang kritis terhadap praktik perusahaan-perusahaan non-media yang “bersaudara” dengannya.

(http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2006/10/konvergensi-media.html

internet dan teknologi website

November 5, 2008 oleh dnasida

Perkembangan Web Hingga Aplikasi Web 2.0

WWW atau secara singkat disebut web mulanya adalah aplikasi untuk menyimpan dan menampilkan teks. Pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Tim Berners-Lee pada tahun 1989. Perkembangan teknologi terutama perkembangan sistem operasi dengan tampilan grafis membuat aplikasi untuk menampilkan web atau biasa disebut web browser juga mampu menampilkan gambar, suara, dan animasi, atau video.
Menurut Tim Berners-Lee sebenarnya tidak ada perbedaan fundamental antara “Web 1.0” dengan yang disebut “Web 2.0”. Ia menganggap Web 2.0 hanyalah jargon karena teknologinya tetap sama-sama dibangun dengan HyperText Markup Language (HTML). HTML adalah bahasa yang digunakan untuk menyusun konten suatu web.

Tim O’Reilly sebagai orang yang memperkenalkan istilah Web 2.0 sebenarnya pun tidak mengatakan bahwa Web 2.0 sama sekali berbeda. Ia mengakui bahwa Web 2.0 merupakan aplikasi berbasis web yang diperkaya oleh serangkaian aplikasi lain. Dalam artikelnya yang bersejarah dan banyak dikutip untuk menjelaskan Web 2.0 [2], ia menekankan tentang perubahan paradigma dalam menggunakan aplikasi web, yaitu:
1. Arsitektur yang memampukan partisipasi. Sebelumnya konten web hanya menayangkan tanpa diikuti aplikasi yang memungkinkan pembaca secara langsung menanggapi dan menayangkan tanggapannya. Demikian pula halaman Web 1.0 tidak mengijinkan pembaca secara langsung menayangkan konten mereka sendiri.
2. Mengumpulkan kekayaan intelektual bersama. Pembaca yang menanggapi artikel dan menyumbangkan artikel tanpa harus tahu pemrograman HTML menjadikan semakin banyaknya konten yang bermanfaat jika dikumpulkan. Google, Yahoo, Flickr, Youtube, dan Wikipedia merupakan perusahaan-perusahaan yang awalnya kecil menjadi sangat besar dari mengumpulkan konten yang ada di internet.
3. Pengaruh jaringan menjadikan konten suatu web yang mulanya sedikit menjadi berlipat ganda dalam waktu singkat. Ketika seseorang menayangkan artikel atau kontennya dan ditanggapi oleh orang lain yang juga mengakses konten, maka semakin banyak lalulintas pengakses. Hal itu terutama terjadi pada jaringan sosial seperti Facebook, Friendster, dan MySpace.
Pengertian Web 2.0 yang mulanya berpusat pada konsumen pembaca/pengakses secara personal berkembang dan mulai berpusat pula pada pengguna korporat. Menurut Coach Wei (2006) Web 2.0 yang berpusat pada konsumen ia sebut Consumer 2.0 berkembang menjadi Enterprise 2.0. Aplikasi Web 2.0 yang awal perkembangannya didominasi untuk memampukan pembaca berinteraksi dengan pembuat berita dan pembaca lainnya, dalam Enterprise 2.0 aplikasi tersebut digunakan untuk mendukung operasi perusahaan. Misalnya untuk kegiatan iklan dengan adanya Google Adsense dan kegiatan humas dibantu adanya blog korporat.

Web 2.0, Apakah itu ?
Dicuplik dari: raitucarp.blogspot.com
Internet merupakan media baru sejak era 1990an. Saat itu, website masih berupa tulisan saja dan minim dengan graphic atau anda bisa membandingkan persamaannya dengan command prompt yang ada di windows. Lambat laun, website sudah bisa menampilkan gambar dan image dengan sempurna tapi tanpa didukung dengan CSS atau bahasa HTML yang berstruktur. Mungkin anda bisa menyebut saat itu adalah era web 1.0.

Saat ini, era web sudah memasuki masa web 2.0 ( cara baca: web two point o ). Peralihan masa web1.0 ke web 2.0 juga di karenakan perkembangan di bidang IT sendiri. Mulai dari perangkat komputernya yang memiliki spesifikasi yang tinggi dan mampu merender gambar secara cepat, sampai dengan kecepatan internet yang sangat cepat atau bisa dikatakan 100x lipat dari kecepatan akses internet masa era web 1, tapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah web browser itu sendiri yang selalu update mengikuti perkembangan bahasa web.

Web 2.0 merupakan revolusi web masa kini. Banyak pemain besar seperti google, yahoo, alibaba.com, wikipedia dll ( website terkenal lainnya ) sudah mencicipi kecanggihannya. Bukan hanya kecanggihanya dalam berinteraksi dengan client, tetapi juga di tandai dengan tehnologi-tehnologi baru dalam dunia website.

Ciri-ciri adanya tehnologi web2.0 adalah adanya istilah Rich Internet applications, XML and RSS, dan Web API.

Rich Internet Applications

Rich Internet Aplications atau disingkat RIA merupakan suatu tehnologi baru dalam dunia web, baik untuk developer atau webmaster tetapi juga untuk client ( Internet Surfer ). Anda bisa merasakannya sendiri pada saat anda membuka gmail anda atau Yahoo! Beta anda. Ketika mengambil data email, anda tidak perlu muluk-muluk menunggu waktu untuk merefresh atau meload halaman. Tetapi hanya mengambil data yang dibutuhkan yang berada di server. Kebanyakan website yang RIA mengadopsi tehnologi AJAX ( Asynchronous JavaScript and XML ). Meskipun dalam RIA kita juga mengenal berbagai tekhnologi OpenLaszlo, JavaFX, Java Applet, penggunaan ActiveX Cntrol. Bahkan, ketika saya posting dan mengedit layout di Blogger.com ini, saya sudah dapat merasakan tehnologi AJAX.

Dalam Web2.0 Adapun tehnik-tehnik dan pengembangan bahasa HTML sudah mengalami perubahan. HTML sudah berada pada versi 5.0 atau sekarang juga dikenal istilah XHTML 1.0 dan XHTML 2.0 yaitu bahasa HTML dan XML yang disatukan membentuk bahasa scripting web yang lebih simple, sederhana dan mudah digunakan.

Berikut ini adalah daftar website-website populer yang menggunakan Web 2.0 khususnya RIA :
Gmail
Wikipedia
Yahoo! Mail Beta
Alibaba
Blogger
Autoghraph Maker
Masih banyak yang tidak saya sebutkan karena nanti memakan tempat.

Sekian dulu penjelasan tentang web 2.0, post selanjutnya mungkin mengenai tehnik-tehnik tentang web 2.0 mulai tutorial bahasa XHTML, pembuatan AJAX juga tentang web2.0 design yang di kenal karena simplicity serta keindahaanya.

Mengenal Web 2.0
Dicuplik dari: www.benpinter.net
Web 2.0 adalah buzzword terbaru di dunia internet. Berbagai inovasi dan fitur-fitur baru yang muncul di dunia web membawa suatu pandangan baru tentang jenis situs web atau aplikasi web yang disebut web 2.0.

Apakah Anda sudah mengetahuinya kalau situs-situs kesayangan Anda mungkin sudah merupakan wujud dari tipe web 2.0.
Istilah web 2.0 disebut-sebut oleh Dale Dougherty dari O’Reilly Media yang melakukan brainstorming dengan Craig Cline dari Media Live untuk menghasilkan ide konferensi di mana mereka menjadi host. Akhirnya pada bukan Oktober 2004 O’Reilly Media, Battele dan MediaLive mlakukan konferensi web 2.0 pertama dan kedua pada bulan Oktober 2005.

Sebelum muncul istilah web 2.0 yang sering digunakan adalah istilah semantic web.

Ada beberapa karakteristik teknis maupun umum yang menggambarkan suatu situs merupakan situs tipe web 2.0

Secara teknis atau teknologi:
- Memanfaatkan CSS, valid XHTML, dan Microformat
- MS ClickOnce
- Teknik Rich Application seperti Ajax
- Java Web Start
- Flex/Lazlo/Flash
- XUL
- Syndikasi data dengan RSS/Atom
- Agregasi dari RSS/Atom
- URL yang bersih dan berarti
- Mendukung posting ke weblog
- Menggunakan API REST (Representational State Transfer) atau XML Web Service
- aspek jaringan sosial

Umum:
- Mudah untuk memasukkan data atau mengambil data dari sistem
- Pengguna memiliki datanya sendiri pada situs
- Berbasis web murni

Bila dibandingkan antara web 1.0 dengan web 2.0 secara contoh:

Web 1.0 Web 2.0
DoubleClick -> Google AdSense
Ofoto -> Flickr
Akamai -> BitTorrent
mp3.com -> Napster
Britannica Online -> Wikipedia
Personal Websites -> Blogging
evite -> Upcoming.org dan EVDB
spekulasi nama domain -> Optimasi Search Engine
page view -> Cost per click
screen scraping -> Web services
publishing -> Participation
content management system -> Wikis
direktori (taksonomi) -> Tagging(”folksonomy”)
stickiness -> Syndication

Dapat dikatakan bahwa web 2.0 menyajikan suatu layanan web yang berpusat pada user di mana user dimudahkan untuk menggunakan berbagai layanan yang ada. Misalkan dalam hal user interface suatu situs web yang menggunakan teknologi flex (aplikasi rich internet berbasis flash dari macromedia yang sekarang adobe), lazlo(platform aplikasi flash open source) atau menggunakan ajax secara intensif seperti gmail atau google map maka situs itu bisa dikatakan merupakan situs tipe web 2.0.
Anda bisa mencoba aplikasi-aplikasi ajax atau Rich Internet Application berbasis flash pada situs-situs berikut:
http://www.gmail.com
http://www.lazlomail.com
http://map.google.com
http://mail.yahoo.com (Anda harus daftar dulu di link yang ada pada What’s New untuk mencoba versi user interface terbarunya yang sudah memanfaatkan Ajax)

Perlu anda ketahui bahwa Ajax adalah kependekan dari Asynchronous Java Script yang memungkinkan aplikasi web yang lebih interaktif dan kaya fitur sehingga menyerupai kemampuan aplikasi desktop.

Lalu pemanfaatan tag untuk pengkategorian data yang disubmit oleh user sendiri sehingga user lain dapat mencari atau menemukannya menggunakan tag-tag juga merupakan salah satu karateristik jenis web 2.0.
Contoh situs yang memanfaatkan tag-tag untuk contentnya adalah:
http://del.icio.us
http://wwww.technorati.com
http://www.digg.com
http://www.standpoint.com
http://www.askeet.com

Desentralisasi seperti Napster atau pun Bittorrent juga merupakan bagian dari teknologi web 2.0 karena tidak ada server terpusat yang melayani berbagai kebutuhan pengguna tetapi mendayagunakan komputer jaringan pengguna yang ada di dalamnya.

Publikasi artikel, berita yang sebelumnya didominasi situs resmi seperti cnn.com, news.com, atau detik.com, kompas.com untuk Indonesia, sekarang sudah mulai disaingi oleh publikasi non resmi dari perorangan atau lembaga yang tidak ada hubungannya dengan publikasi data media seperti biasanya melalui blog sehingga kadangkala informasi dari blog bisa lebih cepat atau lengkap.
Aplikasi blog ini juga merupakan bagian dari web 2.0.

Dalam aplikasi blog ini juga biasanya disediakan fasilitas sindikasi di mana kita dapat menampilkan judul berita dari sumber lain sehingga kita dapat menampilkan judul content dalam berbagai blog menggunakan aplikasi yang bisa membaca sindikasi itu, baik lewat browser web maupun aplikasi desktop. Ketersediaan sindikasi ini atau pemanfaatan sindikasi untuk menampilkan berita juga merupakan bagian dari teknologi web 2.0.

Pemanfaatan web service serta REST sebagai teknologi pendukung merupakan salah satu karakteristik web 2.0 di mana kita dapat membangun aplikasi web tanpa menyediakan atau membuat fungsi-fungsi pendukung aplikasi sendiri tetapi memanfaatkan fungsi-fungsi aplikasi yang disediakan dari web lain melalui kedua teknologi ini. Jadi misalkan anda ingin menyediakan search engine di situs Anda, maka Anda bisa membuat aplikasi yang memanggil fungsi-fungsi layanan search dari Google atau Yahoo menggunakan REST/Web Service sehingga seakan-akan aplikasi Anda dapat menyediakan layanan ini tanpa membuat fungsi search sendiri.

Pemanfaatan partisipasi user secara menyeluruh juga merupakan bagian karakteristik dari teknologi web 2.0, contohnya adalah Wikipedia di mana content dari wikipedia ini dibuat oleh banyak sekali pengunjung yang langsung dapat mengedit isi dari wikipedia sehingga wikipedia menjadi ensiklopedia dinamis yang terus bertambah isinya setiap saat sehingga dapat mengalahkan kelengkapan isi ensiklopedia lain.

Ebay, Amazon maupun Google juga merupakan situs-situs yang mempelopori web 2.0 di mana mereka memanfaatkan respon user untuk content atau layanan yang mereka sediakan.
PageRank dari Google memanfaatkan klik dari user pada hasil pencarian untuk memberikan penilaian ketepatan hasil pencarian, Ebay memanfaatkan pengguna untuk layanan jual beli melalui internet di mana penjual dapat dinilai oleh pembeli-pembelinya secara online, sedangkan Amazon merupakan situs e-commere yang memanfaatkan respons user untuk menghasilkan pencarian produk yang lebih sesuai serta memberikan informasi produk apa adanya melalui fasilitas review.

Dari berbagai uraian ini, semoga Anda dapat mengerti arti web 2.0 dan membedakan suatu situs adalah situs web 2.0 atau tidak.

Setelah Web 2.0, Kini Giliran Web 3.0
Dicuplik dari: www.netsains.com
Jika dunia seluler dikenal istilah 3G, maka di Internet ada yang namanya Web 3.0. Wow, apa pula ini? Apa bedanya dengan Web 2.0 yang sekarang sedang marak? Jangan salah, ternyata orang Indonesia juga sudah ada yang mengembangkannya.
Saat ini kita memasuki generasi kedua dari website atau disebut dengan web 2.0. Pada generasi sebelumnya yaitu web 1.0 memiliki ciri-ciri umum yang mencolok yaitu consult, surf dan search. Jadi pada jaman web 1.0 kita kebanyakan hanya sekedar mencari atau browsing untuk mendapatkan informasi tertentu.
Sosial
Kemudian hadir web 2.0 untuk menggantikan Web 1.0 dimana interaksi sosial di dunia maya sudah menjadi kebutuhan sehingga era Web 2.0 ini memiliki beberapa ciri mencolok yaitu share, collaborate dan exploit. Di era Web 2.0 sekarang, penggunaan web untuk berbagi, pertemanan, kolaborasi menjadi sesuatu yang penting. Web 2.0 hadir seiring maraknya pengguna blog, Friendster, Myspace, Youtube dan Fickr. Jadi disini kehidupan sosial di dunia maya benar-benar terasa.
Era Web 2.0 tidak membutuhkan orang jenius yang hanya berkutat sendiri di ruang tertutup atau laboratorium untuk membuat teknologi baru yang dipatenkan agar membuat dirinya menjadi terkenal. Tapi era ini lebih membutuhkan orang untuk saling berbagi ilmu, pengalaman atau lainnya sehingga terbentuk komunitas online besar yang menghapuskan sifat-sifat individu.
Namun lambat laun kebiasaan dan kebutuhan orang di dunia maya selalu berubah dan bertambah. Hal ini juga sejalan dengan semakin cepatnya akses internet broadband dan teknologi komputer yang semakin canggih. Jika pada telekomunikasi sudah mulai terdengar isu era 4G, begitu juga yang terjadi pada dunia website yang juga memunculkan isu akan segera hadirnya era baru yaitu Web 3.0. Teknologi web generasi ketiga ini merupakan perkembangan lebih maju dari Web 2.0 dimana disini web seolah-olah sudah seperti kehidupan di alam nyata. Web 3.0 memiliki ciri-ciri umum seperti suggest, happen dan provide.
Jadi, disini web seolah-olah sudah seperti asisten pribadi kita. Web mulai mengerti kebutuhan kita dengan bisa memberi saran atau nasehat kita, menyediakan apa yang kita butuhkan. Dengan menggunakan teknologi 3D animasi, kita bisa membuat profil avatar yang sesuai dengan karakter, kemudian melakukan aktivitas di dunia maya seperti layaknya di dunia nyata. Kita bisa berjalan-jalan, pergi ke mall, bercakap-cakap dengan teman yang lain. Ya, Web 3.0 adalah dunia virtual kita.
Buatan Indonesia
Di web 3.0 ini, sudah terjadi konvergensi yang sangat dekat antara dunia TI dengan dunia telekomunikasi. Dunia web dan telco berkembang pesat seiring dengan kebutuhan pengguna. Penggunaan perangkat TI dan telekomunikasi nantinya sudah seperti sama saja tidak ada bedanya. Saat ini saja pertanda seperti itu sudah mulai bisa kita rasakan walaupun masih belum sempurna. Kita bisa menonton tivi di ponsel atau komputer, bisa mengakses internet di ponsel, bisa melakukan SMS dan telepon dari komputer. Ya karena konvergensi terhadap berbagai perangkat seperti hukum alam yang tidak bisa dielakkan. Semua mengalami evolusi menuju dunia yang lebih maju.
Apakah saat ini sudah ada website sebagai pertanda bakal masuknya era web 3.0? Ya, model web 3.0 sudah bisa dirasakan salah satunya adalah pada situs secondlife.com . Dan yang juga cukup membanggakan kita adalah, Indonesia sudah mampu untuk masuk ke dunia Web 3.0 ini dengan hadirnya lilofriends.com . Situs yang sudah mendekati model Web 3.0 asli karya anak bangsa yang dikembangkan oleh dikembangkan oleh Li’L Online Games dengan engine dari Altermyth Studio. Hmm…anak Indonesia hebat-hebat kan? Banyak lagi contoh lain karya anak bangsa berkualitas tinggi yang patut menjadi kebanggaan dan tidak kalah dengan produk buatan bangsa lain. Saatnya ayo berkarya terus memajukan Indonesia!

Web 3.0, Sebuah Bukti Inovasi Tiada Henti
disarikan dari: www.beritanet.com

Jika ingin melihat akan seperti apa perkembangan web di masa depan, maka Web 3.0 adalah jawabannya. Terobosan ini merupakan bukti bahwa teknologi World Wide Web selalu berkembang.

Dunia maya (baca: Internet) telah banyak mempengaruhi kehidupan manusia dewasa ini. Semakin banyak orang yang menggantungkan perkembangan informasinya kepada Internet, sehingga teknologi yang dipergunakan dalam pembangunan sebuah situs web pun terus berkembang. Dari era pertama web dikembangkan (Web 1.0), dimana pengunjung hanya bisa mencari (searching) dan melihat-lihat (browsing) data informasi yang ada di web, kemudian bergeser pada era pengembangan web kedua (Web 2.0) di mana pengunjung mulai dapat melakukan interaksi dengan diatur oleh sistem yang ada pada web. Jenis interaksi yang dapat dilakukan pada era kedua ini antara lain untuk saling bertukar informasi (sharing), eksploitasi informasi, dan juga pembuatan komunitas-komunitas online seperti yang marak saat ini, seperti Friendster, Multiply, YouTube, dan lain-lain. Masing masing komunitas ini mempunyai kepentingannya sendiri dalam saling bertukar data maupun informasi yang mereka himpun. Dalam era inilah sebenarnya interaksi sosial dalam dunia maya mulai dikembangkan. Dan mulai dari era ini pulalah ide untuk mengembangkan aspek sosial sebuah web mulai dipikirkan.
Aspek sosial yang dimaksud, terutama adalah aspek interaksi. Bagaimana sebuah web dapat memberikan sebuah interaksi sesuai dengan kebutuhan informasi setiap pemakaianya, merupakan sebuah tantangan utama dikembangkannya versi Web 3.0 ini. Walaupun hanya bersifat virtual 3D, namun ternyata banyak yang mengharapkan perkembangan teknologi web ini dapat memenuhi kebutuhan setiap bidang informasi, bahkan setiap orang yang mengunjunginya.
Jika dianalogikan dalam kehidupan nyata, masyarakat kini ingin diperlakukan seperti seorang pengunjung butik dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Bukan seperti pengunjung supermarket yang dibiarkan mencari dan mendapatkan sendiri barang yang dinginkannya. Pengunjung sebuah web ingin dimengerti kemauannya oleh ‘toko’ penyedia informasi (dalam hal ini website). Inilah yang dimaksud dengan tantangan bagaimana sebuah web dapat mengerti dan membantu pengunjung dalam berinteraksi dengan semua informasi yang ada. Sehingga tak mengherankan jika kemudian ciri dari pengembangan web generasi ketiga ini adalah web yang bersifat ‘nyata’, benar-benar ada interaksi yang terjadi, kemudian dapat memberikan arahan atau ‘anjuran’ kepada pengunjung dalam mendapatkan informasi yang diharapkannya, dan tentu saja juga tetap bersifat ‘provide’ atau mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan.
Web 3.0 sendiri merupakan sebuah proyek pengembangan semantic web, yaitu sebuah sistem web yang dapat melacak setiap kaitan dari kata-kata yang terangkai, berkaitan dengan arti setiap kata yang dipakai. Tujuannya tentu saja agar web dapat menjadi media umum untuk bertukar informasi melalui dokumen-dokumen yang bahasanya dapat dimengerti oleh sistem, sehingga para pengunjung web dapat dengan mudah mencari data yang tepat atau minimal berkaitan dekat dengan apa yang kita maksud. Web 3.0 sendiri merupakan sebuah realisasi dari pengembangan sistem kecerdasan buatan (artificial intelegence) untuk menciptakan global meta data yang dapat dimengerti oleh sistem, sehingga sistem dapat mengartikan kembali data tersebut kepada pengunjung dengan baik.
Saat ini adaptasi Web 3.0 mulai dikembangkan oleh beberapa perusahaan di dunia seperti secondlife, Google Co-Ops, bahkan di Indonesia sendiri juga sudah ada yang mulai mengembangkannya, yaitu Li’L Online (LILO) Community.
Permasalahan lain yang potensial muncul adalah, sebagai teknologi masa depan, Web 3.0 juga membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadahi dan spesifikasi komputer yang tidak enteng, hal ini disebabkan tak lain karena teknologi ini secara visual berbasis 3D. Sedangkan seperti yang kita tahu biaya akses Internet dengan kecepatan tinggi di Indonesia ini masih terbilang mahal bagi masyarakat umum. Belum lagi jika dihitung dari biaya spesifikasi perangkat komputer yang dibutuhkan, mungkin masyarakat Indonesia yang ingin menikmati kecanggihan layanan berbasis teknologi Web 3.0 masih harus menarik nafas penjang. Namun karena Web 3.0 sendiri masih dalam pengembangan, seiring dengan berlalunya waktu sebagai masyarakat Indonesia kita masih bisa mengharapkan bahwa biaya komunikasi, dalam hal ini koneksi Internet kecepatan tinggi akan semakin murah nantinya, sehingga terjangkau bagi masyarakat luas. (http://iffed.blog.friendster.com/2008/10/teknologi-web-2/#comment-5)

budaya dan konsep teknologi

November 5, 2008 oleh dnasida

Budaya & Konsep Teknologi

Kenetralan teknologi

Teknologi berkembang hampir di seluruh belahan dunia. Negara – negara di kawasan eropa dan amerika hampir selalu menjadi pioner dalam hal perkembangan teknologi. Berbagai produk teknologi diciptakan dengan maksud memudahkan pekerjaan manusia. Produk produk hasil perkembangan teknologi tersebut diciptakan di sejumlah negara dan dipublikasikan ke pasar dunia. Namun yang terjadi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan awal penciptaan dan pemasaran produk teknologi.

Sebagai contoh adalah produk ’snowmobiles’ yang berkembang di Amerika Utara pada tahun 1960an. Produk ini diciptakan untuk memudahkan warga amerika utara selama musim salju. Ketika ’snowmobiles’ dipasarkan di luar negeri, pemanfaatannya menjadi bergeser. Di Swedia ’snowmobiles’ digunakan untuk mengggembala rusa kutub, dan di Canada, produk ini digunakan untuk para eskimo yang hendak menjebak serigala untuk selanjutnya diambil kulitnya.Dengan demikian dapat disimpulkan sementara bahwa produk teknologi telah diciptakan dan ketika produk tersebut disebar, maka penggunaannya akan bergantung pada kondisi sosial atau kebudayaan warga daerah masing – masing. Hal ini lah yang menjadi argumen atas pertanyaan bahwa apakan teknologi itu netral atau bergantung pada kondisi sosial. Jika dilihat dari sisi konstruksi dasar mesin dan bagaimana cara kerja sebuah produk teknologi, maka teknologi dapat dikatakan netral karena dimanapun penggunaannya sama dan mesin yang dipakai sama. Namun jika dilihat dari sisi aktivitas manusia yang menggunakannya, teknologi tidaklah netral karena tujuan tujuan penggunaan produk teknologi tidaklah sama di setiap daerah. Kata ’teknologi’ memilki arti yang beraneka ragam jika dilihat dari berbagai bidang. Di dunia kedokteran, teknologi berkisar pada pengetahun mengenai bidang kedokteran, dan keahlian dalam menangani pasien. Bahkan ada pula yang menambahkan bahwa teknologi kedokteran juga meliputi teknik dasar kedokteran, aspek budaya, dan organisasi. Teknologi dapat dimaknai sebagai aktivitas manusia dan juga sebagai bagian dari kehidupan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teknologi tidak hanya seputar teknik, mesin, dan pengetahuan, namun juga seputar organisasi dan nilai nilai budaya.

Definisi

Mendefinisikan konsep teknologi secara tepat memerlukan pemikiran mengenai manusia dan aspek sosial yang ada. Banyak orang mengidentifikasi teknologi hanya dengan aspek teknis karena anggapan bahwa teknologi selalu berurusan dengan mesin, teknik, dan segala aktivitas untuk menjalankan sesuatu. Kata ’Teknologi’ terkadang digunakan oleh orang orang dengan pemikiran terbatas dan juga oleh orang orang dengan pemikiran yang lebih luas. Ketika orang orang dengan pemikiran terbatas mendefinisikan teknologi, maka aspek budaya akan ditempatkan sebagai bagian diluar teknologi, teknologi hanya terbatas pada masalah teknik. Sedangkan bagi orang orang dengan pemikiran yang lebih luas, teknologi dikaitkan dengan ’technology practice’ atau kegiatan praktik dari teknologi yang tentu saja tidak bebas nilai karena akan berhubungan dengan tujuan penggunaan teknologi, aspek budaya, dan kondisi sosial yang ada. Beberapa definisi yang sifatnya formal menyebutkan bahwa, teknologi adalah hasil dari pengetahuan ilmiah yang teroganisir dan diaplikasikan secara sistematis ke dalam hal hal yang bersifat praktis.Secara eksplisit, teknologi dianalogikan sebagai ’hardware’ dimana manusia sebagai pengguna dan teknologi sebagai alat yang digunakan. Namun, selanjutnya perkembangan di bidang teknologi menyebutkan bahwa teknologi lebih dari hanya sekedar ’hardware’. Teknologi merupakan ’liveware’ karena organisme – organisme hidup setidaknya bergantung pada teknologi. Selain pendefinisian teknologi’, pendefinisian kata ’ teknikal’ dan ’teknologikal’ juga menjadi perbincangan. Pendefinisian kedua konsep itu membutuhkan deskripsi atau contoh kasus agar lebih mudah dipahami. Dan pada akhirnya, menurut Arnold Pacey, konsep teknikal lebih mengarah pada pengaplikasian suatu produk teknologi untuk memecahkan suatu masalah. Sedangkan ’teknologikal’ merupakan konsep yang lebih luas, tidak hanya terpaku pada hal hal yang sifatnya teknikal.

Latar belakang dan Nilai Nilai masyarakat

Membicarakan teknologi lebih jauh, berarti membicarakan beberapa sikap yang membatasi pandangan seseorang mengenai teknologi. Sistem teknologi meliputi manusia dan mesin. Tingkatan keduanya adalah setara. Namun pada kenyataannya manusia, karena merasa dirinya sebagai ’user’ dari mesin, seringkali memposisikan diri lebih tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan budaya yang terjadi di masyarakat. Ketika sebuah mesin produk teknologi mengalami kerusakan, seringkali yang dislahkan adalah mesin itu sendiri. Mesin yang buruk, tidak tahan lama, kurang canggih, dan alasan lainnya. Manusia sering mengesampingkan alasan bahwa mesin itu kurang dirawat oleh manusia. Manusia cenderung terfokus pada aspek teknik dari setiap masalah yang bersifat praktis. Dan mereka lalu mulai berfikir tentang kemampuan luar biasa lainnya yang dapat diciptakan melalui teknologi. Manusia makin mengharapkan teknologi dapat menyelesaikan setiap masalah.Yang perlu disadari, teknologi tidak selamanya dipuja dan dibutuhkan begitu saja oleh masyarakat di seluruh dunia. Teknologi juga harus diiringi dengan perkembangan pendidikan dan pengetahuan. Menjamurnya teknisi teknisi yang ahli juga tidak akan berpengaruh apa apa jika mayoritas penduduknya tidak terpelajar. Masyarakat tersebut akan menganggap teknologi tak ubahnya seperti alien. Dengan demikian, perkembangan teknologi tidak dapat netral dan berdiri sendiri. Perkembangan teknologi harus diimbangi dengan perkembangan sosial, pendidikan, dan kebudayaan.

Pengukuran Kemajuan Teknologi

Manusia terbiasa terfokus pada produk teknologi dibandingkan dengan aktivitasnya sehari hari. Karena itulah kemajuan teknologi sering diukur dengan melihat pada berbagai macam produk teknologi yang baru diciptakan, serta jumlahnya yang meningkat. Sebagai contoh, pada awal tahun 1600, penemuan seperti mesin cetak, kompas megnetis menjadi bukti dari kemujuan teknologi. Dan semakin berkembangnya zaman, ditemukan pula mesin uap dan lampu elektrik.Berbagai tipe mesin bermunculan untuk menunjukkan perkembangan yang bertahap dalam jangka waktu yang lama. Kemajuan teknologi dianggap melaju secara konsisten dan diukur melalui grafik.Nicholas Rescher, seorang ahli statistik dan diagram menyatakan bahwa konsistensi dari kemajuan teknologi adalah hal yang lumrah. Namun cara pandang tersebut ternyata memiliki kelemahan yang fatal. Dengan keadaan yang konsisten, kemajuan teknologi menjadi tidak dinamis. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemajuan salah satu dimensi membuat kemunduran dimensi yang lain menjadi dikesampingkan. Contohnya di dunia pertanian. Jumlah produksi pertanian dikaitkan dengan faktor tanah, SDM, dan energi yang berlimpah. Padahal belum tentu untuk mencapai panen yang berlimpah harus memiliki SDM, energi, dan tanah yang banyak. Kemajuan panen tidak hanya berkisar diantara faktor tersebut saja. Apalagi fakta bahwa di Amerika serikat yang memiliki lahan sangat luas tidak menjadikan hasil pertaniannya serta merta meningkat dan berlebih.Tingginya tihasil pertanian juga disebabkan oleh aspek organisasional, hal tersebut juga dilihat dari perbandingan jumlah hewan ternak dan hasil panennya. Kemajuan teknologi di bidang pertanian dapat dilihat dari munculnya pupuk kimia dan traktor. Dengan traktor, para petani tetap dapat membajak sawah walaupun dalam kondisi iklim yang tidak mendukung. Berpindahnya penggunaan mesin uap menjadi penggunaan turbin raksasa juga dijadikan sebagai ukuran kemajuan teknologi.

Organisasi Kerja

Intepretasi dalam hal kemajuan teknologi bersifat linear. Pada tahun1840, kemajuan di bidang pertanian dikaitkan dengan revolusi Industri. Dengan demikian kejadiannya bersifat searah. Pola intepretasi yang linear memunculkan pernyataan bahwa perkembangan yang terjadi di bidang teknologi, dalam hal ini perkembangan pabrik pabrik yang menggunakan mesin uap, memunculkan sistem ekonomi kapitalis. Namun opini tersebut tidaklah sepenuhnya tepat. Buktinya, pabrik yang ada pada saat revolusi industri dan menggunakan sistem kapitalis mengaku sama sekali tidak bergantung pada terciptanya mesin uap. Banyak negara eropa,yang masih menggunakan tenaga kuda sebagai sumber energi mereka. Sebenarnya, peranan produk teknologi seperti mesin mesin yang diciptakan bukanlah hal yang terpenting. Yang paling penting adalah bagaimana sistem manjemen pabrik di dalamnya. Sebagai bukti, sebuah pabrik di kawasan Eropa lebih memilih menggunakan tenaga kerja manusia dibandingkan mesin mesin canggih yang pada saat itu telah beredar. Pemilik pabrik berpendapat bahwa, dengan membawa pekerja pekerja melalui pelatihan kerja yang terawasi, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bahkan karena lingkungan yang kondusif, pencurian sejumlah material dapat dihentikan. Yang terpenting adalah esensi dari manajemen yang baik. Penumbuhan rasa disiplin dan pengkoordinasian antara atasan dengan bawahan yang baik merupakan sistem yang baik.Perubahan di dalam organisasi kerja dapat dilihat dari makin berkembangnya tenaga kerja yang dibutuhkan. Satu divisi kerja dapat dipecah menjadi beberapa divisi kerja baru yang berarti membuka peluang kerja bagi tenaga kerja yang baru. Dan mulailah penggunaan mesin dilakukan untuk mempermudah pekerjaan yang ada. Dengan demikian keahlian khusus mulai jarang dibutuhkan. Pada era selanjutnya, dimana para ‘draftman’ bermunculan, penggunaan komputer mulai terjadi. Komputer digunakan untuk membuat gambar. Para desainer membuat gambar menggunakan VDU, yaitu papan gambar elektronik. Dengan demikian gambar akan dihasilkan secara lebih mendetail dan lebih cepat.Selain itu muncul pula program pemprosesan data yang berguna untuk membuat dokument atau tulisan. Tidak diragukan lagi, komputerisasi dapat membantu kita mengatasi kompleksitas dunia modern. Mikroprosesor memfasilitasi berbagai macam peralatan menjadi lebih efisien dan terbentuk rapi dalam satu wadah. Komputer memudahkan jalinan hubungan yang terjadi diantara manusia.

Penentuan keputusan dan Pergerakan dalam Kemajuan

Saat ini, pola – pola baru mengenai organisasi harus ditemukan sebelum inovasi atau teknik di dalam teknologi bermunculan. Organisasi kerja dianggap lebih penting dibandingkan dengan produk teknologi yang dihasilkan oleh organisasi kerja tersebut.Dibandingkan pernyataan bahwa mesin uap james watt memimpin revolusi industri, mungkin lebih pantas dikatakan bahwa perkembangan organisasi pabrik memberikan kesempatan pada james watt untuk menyempurnakan penemuannya.Kebanyakan penemuan dibuat dengan tujuan sosial tertentu, namun banyak pula yang terpengaruh oleh berbagai hal dan menyebabkan penemuan penamuan tersebut tidak sesuai dengan harapan manusia. Inovasi selanjutnya akan dilihat sebagai hasil dari siklus dari faktor sosial, kultural, dan teknikal.Teknologi bukan sesuatu yang berada di luar konsep sosial. Sosial dan teknologi saling berkaitan satu sama lain. Inovasi bukan hanya hasil dari logika yang rasional. Di dalamnya juga terkandung tujuan dan maksud tertentu. Inovasi juga merefleksikan kesadaran tentang kemungkinan dan kesempatan yang berhubungan dengan maslah ekonomi. Pergerakan inovasi dan kemajuan teknologi, secara khusus, dapat dilihat dari penggunaan manusia sebagai tenaga kerja menjadi penggunaan mesin dan komputer. Selain itu industri yang bersifat agrikultur mulai bergerak menjadi industri yang bersifat otomotif.

Budaya Para Ahli

Di kalangan praktisi, perbedaan bidang studi menyebabkan budaya teknologi yang berbeda pula. Di bidang kedokteran, teknologi berkisar pada cara cara menyembuhkan pasien. Hal ini berarti bagi seorang dokter, teknologi digunakan untuk mengobati, bukan mencegah. Sedangkan di bidang teknisi, teknologi digunakan untuk mencegah suatu masalah. Contohnya adalah penciptaan alarm kebakaran yang digunakan untuk mencegah kebakaran, atau kamera pengintai yang dapat mencegah pencuri masuk. Dalam dunia kedokteran ditemukan istilah ’Halfway technology’ atau teknologi separuh jalan. Teknologi ini dapat didefinisikan sebagai teknologi yang belum sepenuhnya dimengerti atau dikuasai oelh manusia. Dalam dunia kedokteran, teknologi seharusnya mencakup pada teknik – teknik yang bersifat efektif dan relatif murah. Namun, dalam dunia kedokteran dikenal pula tranplantasi organ atau kemotrapi yang disadari merupakan hal yang kompleks dan sulit dipahami. Hal itulah yang dimaksud dengan teknologi separuh jalan. Terkadang, pengetahuan yang sudah dimiliki dan dikuasai dengan mudah malah tidak digunakan, seseorang cenderung mempelajari dan mengadopsi teknologi baru yang lebih rumit dan canggih. Perbedaan budaya yang melahirkan perbedaan dalam memandang teknologi seringkali menimbulkan perdebatan. Contoh kasus terjadi diantara ahli lingkungan dengan sukarelawan mengenai hal penyebab kanker. Para sukarelawan bersikukuh menyatakan bahwa penyebab kanker rahim adalah hubungan seksual secara bebas. Para sukarelawan memberikan data data dan menyebutkan bahwa faktor lingkungan hanya berpengaruh sebesar 5 persen terhadap penularan penyakit tersebut. Lain halnya dengan ahli lingkungan yang menyatakan bahwa penyakit kanker rahim 40 persen disebabkan karena kondisi lingkungan, daerah kumuh dan miskin yang berhubungan dengan kesulitan menrawat diri dan mendapatkan air bersih,sampai hal lingkungan tempat suami bekerja. Perbedaan pendapat tersebut dilatarbelakangi oleh cara pandang setiap ahli terhadap masalah kanker. Para ahli lingkungan akan memandang dari segi lingkungan. Contoh lain terjadi dalam hal polusi udara, dimana para kimiawan merasa bahwa polusi merupakan murni masalah kimia, dan mereka benar benar tidak memasukkan unsur kelalaian manusia, atau unsur keadaan lingkungan yang sepi dari pepohonan. Para ahli seringkali hanya berdiri pada bidang keahliannya saja, mereka melupakan faktor faktor non ilmiah di luar aspek teknikal yang mereka yakini. Para ahli memandang teknologi dan semua maslah yang ada di dalamnya dari segi teknis, dan hanya sedikit memandang segi kultural sepertinilai nilai personal atau segi organisasional seperti aktivitas lingkungan. Mereka memperkecil cakupan menjadi hanya aspek teknis dimana aspek tersebut telah mereka kuasai secara mendetail.

http://ranggaekaputra.blog.friendster.com/2008/11/budaya-konsep-teknologi/#comment-2

Perkembangan Teknologi Komunikasi

September 16, 2008 oleh dnasida

Semoga dengan adanya mata kuliah Perkembangan Teknologi Komunikasi dapat membantu mengatasi kegaptekan saya dan saya jadi tahu perkembangan -perkembangan teknolologi khususnya dalam bidang komunikasi. Amin.

Hello world!

September 11, 2008 oleh dnasida

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!